Ikhsan Falihi
(PENYAIR PINGGIR KALI)

Sunday, February 4, 2018

SYAIR PUTRI HIJAU 2

SYAIR PUTRI HIJAU 2

BAGIAN III: RAJA ACEH

Begitulah konon orang cerita
Deli Tua masyhurlah warta
Sultannya arif ‘alim pendeta
Bijak bestari adalah serta

Tersebut pula kisah suatu
Adalah konon seorang ratu
Di negeri Aceh bertahtanya itu
Gagah berani konon sangratu

Kerajaannya besar bukan kepalang
Banyak mempunyai menteri hulubalang
Gajah dan kuda tiada terbilang
Di pelabuhan banyak kapal pencalang

Raja Aceh tiada samanya
Di pulau Sumatera masyhur khabarnya
Parasnya elok sukar bandingnya
Serta berani dengan gagahnya

Pada masa suatu ketika
Semayam di balai sultan paduka
Dihadap oleh menteri belaka
Hati baginda sangatlah suka

Menterinya bercerita ini dan itu
Beberapa nasihat adalah tentu
Disembahkan kepada paduka ratu
Bagindapun suka bukan suatu

Demikianlah halnya setiap hari
Baginda dihadap hulubalang menteri
Beserta dengan dagang senteri
Serta raja-raja takluknya negeri

Apabila sudah berkata-kata
Baginda menjamu sekalian rata
Tua muda adalah serta
Menerima kurnia raja mahkota

Begitulah selalu pekerjaanya
Kepada rakyat sangat kasihya
Adil dan murah baik budinya
Sedikitpun tiada dibedakannya

Rakyatpun cinta kepada raja
Apa kehendaknya diturut saja
Baik tua muda remaja
Tiada seorang bermuram durja

Suatu masa duli sangratu
Hari Jumat di malam Sabtu
Baginda berdiri di muka pintu
Bersenang diri peluang waktu

Ketika itu bulanpun terang
Seluruh alam terang-benderang
Angin bertiup serang-menyerang
Bagindapun suka bukan sebarang

Dengan takdir Allah ta’ala
Terpandang cahaya di cakrawala
Warnanya hijau bernyala-nyala
Sebagai cahaya sebuah kemala

Bagindapun heran bukan suatu
Melihat cahaya serupa itu
Takjub di hati duli sangratu
Cahaya apakah gerangan itu

Melihat hal demikian peri
Ke dalam istana baginda berlari
Menyuruh memanggil hulubalang menteri
Menunjukkan cahaya sambil berdiri

Kepada wazirnya baginda berkata
Auhai mamanda, coba cerita
Cahaya apakah demikian nyata
Belum pernah dipandang mata

Selama hidup, wahai menteri
Tak pernah melihat demikian peri
Keterangan harap segera beri
Cahaya apakah hijau berseri?

Wazir menjawab dengannya segera
Ampun tuanku raja negara
Pada patik empunya kira
Itulah tjaahya Batara Indera

Sungguhpun patik berkata begitu
Dalam hati belumlah tentu
Karena jauh bukan suatu
Di negeri asing tempatnya itu

Cahya nan bukan di negeri kita
Karena sayup dipandang mata
Jika tuanku hendakkan nyata
Titahkan orang memeriksai serta

Pada patik empunya hemat
Itulah tentu suatu ‘alamat
Entah dunia hendak kiamat
Baik diperiksai dengan cermat

Baginda mendengar sembah wazirnya
Merasa berkenan dalam hatinya
Iapun masuk kedalam istananya
Diatas peraduan membaringkan dirinya

Tetapi baginda tak dapat lena
Karena hatinya gundah gulana
Terkenangkan cahaya suatu makna
Belum diketahui dengan sempurna

Demikian halnya semalam-malam
Tinggal berbaring di atas tilam
Hatinya sangat gundah di dalam
Memikirkan cahaya sebagai nilam

Setelah siang sudahlah hari
Baginda semayam di balairung sari
Dihadap oleh perdana menteri
Rupanya lesu tiada terperi

Wazir melihat paduka ratu
Bermuram durja, berhati mutu
Hatinya pilu bukan suatu
Tunduk menyembah ketika itu

Wazirpun lalu segera berperi
Ampun tuanku mahkota negeri
Apakah sebab demikian peri
Tiada sebagai sehari-hari

Mengapa tuanku berhati pilu
Adakah musuh hendak memalu
Berilah tahu, duli penghulu
Biarlah patik mati dahulu

Baginda tersenyum manis berseri
Mendengar sembah wazir bestari
Sukanya tidak lagi terperi
Dengan perlahan bagian berperi

Lemah lembut baginda bersabda
Aduhai wazirku usul yang syahda
Suruhkan orang djangan tiada
Mentari cahya di mana ada

Siapkan kelengkapan mana yang perlu
Supaya mereka segera berlalu
Tanjakan orang hilir dan hulu
Sebelum didapat hatiku pilu

Apabila cahya sudah didapati
Hendaklah mereka kembali pasti
Supaya aku bersenang hati
Jika tiada, tentulah mati

Tatkala wazir mendengar titah
Iapun tunduk, lalu menyembah
Ampun tuanku duli khalifah
Titah tuanku benarlah sudah

Biarlah patik pergi sendiri
Bersama dengan seorang menteri
Segenap negeri patik edari
Tiada patik merasa ngeri

Demi sultan mendengar kata
Hatinya sangat bersuka cita
Aduhai wazirku usul yang po’ta
Kuserahkan kepada Tuhan semesta