Ikhsan Falihi
(PENYAIR PINGGIR KALI)

Sunday, February 4, 2018

SYAIR PUTRI HIJAU 8

SYAIR PUTRI HIJAU 8

BAGIAN IX: PUTRI HIJAU DILARIKAN NAGA

Banyaklah orang heran dihati
Melihat perbuatan demikian pekerti
Karena belum pernah dilihati
Pekerjaan aneh nyatalah pasti

Setelah mengerjakan perintah rajanya
Masing-masing orang kembali kerumahnya
Ada yang bertanya pada sahabatnya
Perbuatan demikian apakah maksudnya

Putri Hijau usul yang sahda
Waktu ditinggalkan oleh baginda
Iapun keluar dari dalam keranda
Kemenyan diambil putri berida

Kemenyan dibakar dengannya segera
Asapnya mendulang atas udara
Sambil menangis perlahan suara
Disebut-sebutnya nama saudara

Aduhai kakanda junjungan hulu
Manalah janji kakanda dahulu
Kita nan sudah mendapat malu
Adinda ditawan Aceh penghulu

Waktu dahulu janji kakanda
Hendak menolong pada adinda
Sekarang ini beginilah ada
Kita nan sudah porak-poranda

Wahai kakanda raja yang sakti
Dimanakah tempat kakanda menanti
Ambillah adinda kemari pesti
Bersama hidup bersama mati

Kakandaku tuan mahkota negeri
Segeralah kakanda datang kemari
Ambil adinda bawalah lari
Hatiku takut masuk ke negeri

Jika kakanda tiada membantu
Adinda mati sudahlah tentu
Hatiku hancur bukan suatu
Umpama kaca jatuh ke batu

Daripada bersuami dengan dipaksa
Relalah adinda jadi binasa
Hidup begini tiada kuasa
Menjadi tawanan dilain desa

Dengan kodrat Tuhan semesta
Waktu putri sedang meminta
Haripun jadi gelap gulita
Gelombangpun besar badaipun serta

Turunlah angin terlalu kencang
Kapal yang besar sampai berguncang
Perahu karam sekoci dan lancang
Maksud baik menjadi pincang

Langit kelihatan hitam bermega
Angin, gelombang bertambah juga
Banyaklah kapal jadi berlaga
Umpama telur di dalam raga

Banyaklah kapal jadi terdampar
Keatas pantai sebagai dilempar
Karena angin datang menampar
Ketika itu sangatlah gempar!1

Dalam rebut bukan buatan
Kedengaran menderu dalam lautan
Seekor naga nyata kelihatan
Sangatlah besar menuju buritan

Naga itu datang menghampiri
Kedekat kapal tuan putri
Orang dikapal habislah lari
Tinggallah putri seorang diri

Takutnya putri bukan sedikit
Melihat naga umpama bukit
Tiadalah dapat hendak berbangkit
Badannya gemetar merasa sakit

Waktu naga dekatlah sudah
Putri menangis tunduk tengadah
Hendak lari tiadalah mudah
Kedalam keranda ia berpindah

Ia berbaring dalam keranda
Takut dan ngeri semuanya ada
Gemuruh bunyinya darah di dada
Orang menolong haram tiada

Karena orang sudahlah lari
Masing-masing pergi membawa diri
Begitupun juga Raja bestari
Tiadalah ingat kepada putri

Putri berbaring mata dipejamkan
Kepada Allah diri diserahkan
Dari pada bahaya minta lindungkan
Diamlah ia akhir dinantikan

Nagapun segera datang mendapatkan
Kepada kapal badan dirapatkan
Kepala diangkat ekor dikipaskan
Kapalpun berpusing air diturutkan

Kepala berpusing umpama roda
Habislah koyak layar dan tenda
Berpelantingan segala barang yang ada
Habislah hilang harta dan benda

Ditengah lautan naga mengambang
Melihat kapal dipermainkan gelombang
Segala tiangnya habislah tumbang
Orang melihat sangatlah bimbang

Iapun mengangkat kepalanya tinggi
Kepada kapal mengempas lagi
Dengan ekornya kapal dibagi
Kapalpun hancur umpama ragi

Ketika itulah kapal binasa
Dikaramkan oleh naga perkasa
Hanyalah keranda aman sentosa
Tempat berbaring putri berbangsa

Keranda terapung tiadalah tenggelam
Kelihatan putri berbaring di dalam
Wajahnya bersih umpama nilam
Sebagai bulan di waktu malam

Dalam hal macam begitu
Nagapun membawa keranda itu
Dijunjung keranda puteri ratu
Berenang segera ujud tak tentu

Nagapun berenang terlalu cepat
Dipandang mata haram tak sempat
Ditengah lautan sebagai melompat
Cepatnya makin berganda lipat

Antara tak lama naga menjelam
Bersama keranda lalulah tenggelam
Bagaimana akhirnya wallaahu a’lam
Sampai sekarang tinggallah kelam

Riwayat beralih berganti cerita
Tidak berapa lama antara
Setelah naga menyelam segara
Hujan dan angin teduhlah segera

Raja Aceh muda bangsawan
Tinggallah ia berhati rawan
Siang dan malam igau-igauan
Terkenanglah putri muda rupawan

Adapun halnya sehari-hari
Duduk bermenung seorang diri
Tiadalah pernah ke balairung sari
Selalu teringat kepada putri

Sesal hatinya tiada terderita
Karena putri hilang dimata
Duduklah ia dengan bercinta
Tidur bertilam si air mata

Sekarang apa hendak dikata
Kehendak Tuhan alam semesta
Sudah ditangan yang dicinta
Karena tak jodoh, lenyap di mata