Ikhsan Falihi
(PENYAIR PINGGIR KALI)

Sunday, February 4, 2018

SYAIR PUTRI HIJAU 6



SYAIR PUTRI HIJAU 6

BAGIAN VII: RAJA ACEH DENGAN PUTRI HIJAU

Larasnya putus besi melayang
Remuk sebagai dimasak loyang
Keliling istana rasa bergoyang
Terkejut segala hamba dan dayang

Bunyi yang dahsyat sudah tiada
Pada musuhnya akan menggoda
Raja Aceh orang yang muda
Sangatlah suka didalam dada

Pintu kota mereka pecahkan
Dengan segera orang hancurkan
Harta rampasan banyak didapatkan
Kepada bendahara semua diberikan

Tersebutlah perkataan radja, Aceh bestari
Sukanya tidak lagi terperi
Masuklah segera keistana puri
Putri Hijau hendak dicari

Kedalam istana sampailah baginda
Bersama menteri mana jang ada
Sangatlah suka didalam dada
Takut dan ngeri sudah tiada

Setelah sampai dalam istana
Putri dicarinya ke sini-sana
Hatinya suka terlalu bena
Perangnya menang dengan sempurna

Tetapi putri tiadalah dapat
Rata dicarinya segenap tempat
Karena putri sembunyi tjepat
Dalam peraduan bertirai rapat

Raja Aceh lama mencari
Barulah bertemu dengannya putri
Dalam peraduan membaringkan diri
Wajahnya gemilang berseri-seri

Demi terpandang oleh baginda
Akan paras putri yang syahda
Iman bergoyang didalam dada
Berahinya datang berganda-ganda

Iapun berdiri dekat peraduan
Peraduannya indah sangat rupawan
Hatinya geram bercampur rawan
Melihat putri muda perawan

Waktu putri membuka matanya
Sangat terkejut rasa hatinya
Seorang laki-laki masuk ketempatnya
Belumlah pernah demikian halnya

Iapun bangun hendakkan lari
Oleh baginda segera dihampiri
Baginda bertanja manis berseri
Hendak kemana adinda putri?

Janganlah tuan bersalah sangka
Pada kakanda orang durhaka
Tiada kakanda gusar dan murka
Adindaku tempat melipurkan duka

Adinda tempat kakanda bergantung
Menyerahkan nasib bersama untung
Bersama terbenam sama terkatung
Adinda miliki hati dan jantung

Aduhai adinda rupawan sejati
Janganlah tuan berketjil hati
Kehendak kakanda baik turuti
Menjadi istri dengan seperti

Sangatlah lama kakanda bercinta
Pada adinda emas juwita
Terbayang-bayang diruangan mata
Barulah bertemu tajuk mahkota

Adindaku tuan muda bestari
Janganlah tuan merasa ngeri
Marilah bersama pulang kenegeri
Adinda kunobatkan menjadi suri

Haram kakanda akan berdusta
Pada adinda usul yang po’ta
Jika kakanda memungkiri kata
Dikutuk oleh Tuhan semesta

Berbagailah pudjuk dikatakannya
Beserta dengan lemah lembutnja
Puteri mendengar benci hatinya
Tetapi dapat disamarkannya

Putri menjawab manis berseri
Ampun tuanku mahkota negeri
Patik menurut sebarang peri
Nyawa diserahkan bersama diri

Badan dan jiwa patik serahkan
Sebarang kehendak tuanku lakukan
Menjadi hamba tuanku buatkan
Sedikit tiada patik bantahkan

Hanyalah sedikit permintaan ada
Pada tuanku usul yang sahda
Jika ada rahim di dada
Harap kabulkan jangan tiada

Suatu keranda tuanku buatkan
Dari pada kaca tuanku dijadikan
Kedalamnya itu patik masukkan
Sampai di Aceh baru bukakan

Sebabnya permintaan patik begitu
Karena kita belum bersatu
Kulit bersentuh haramlah tentu
Hukum syara melarangnya itu

Demi baginda mendengar kata
Hatinya sangat bersuka cjita
Maksudnya hasil sudahlah nyata
Permintaan putri dikabulkan serta

Keranda kaca disuruh tempa
Sangatlah elok dipandang rupa
Dimasa ini jarang berjumpa
Orang melihat lalai dan alpa

Tiada saja berpanjang kalam
Setelah hari sudahlah malam
Bagindapun lalu masuk kedalam
Bertemukan putri muda pualam

Dengan manisnja baginda bermadah
Aduhai adinda paras yang indah
Keranda itu siaplah sudah
Bilakah waktunya kita berpindah?

Maksud kakanda di dalam hati
Jika kiranya adinda turuti
Kita nan baik berangkat pasti
Siapa tahu bahaya menanti